Monday, May 6, 2019

Bagian #1: Bahagia dalam Naungan Al-Quran dan Sunnah


Tentang Makna Bahagia

Bahagia memiliki tafsir dan makna yang beragam. Bergantung pada sosok, keadaan, serta referensi dalam memahaminya. Demikian di antara makna bahagia nampak bahwa definisi bahagia bigitu beragam dan bergantung pada situasi dalam memaknainya dan akan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Rasa bahagia adalah hal yang begitu didamba oleh setiap manusia. Demi kebahagiaan aneka upaya akan ditempuh. Dari yang paling sederhana hingga teramat payah, bahkan dengan usaha yang kadang sulit dilukiskan. Namun kebahagiaan yang dimaksud hanya berlaku umum, sifatnya tidak holistik dan jangkauannya tidak komprehensif. Bahagia bagi seorang belum tentu berlaku bagi orang lainnya.

Begitu pentingnya bahagia, ada pula yang berusaha membuat undeks kebahagiaan hingga level kota untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan manusia. Hasilnya tidak ada stu pun yang meraih nilai sempurna. Kebahagiaan si A belum tentu kebahagiaan untuk si B. Kebahagiaan si B belum tentu berlaku bagi si C. Demikian seterusnya. Lantas bagaimana kebahagiaan yang hakiki dan bisa diraih setiap orang?
  
Bahagia dalam Naungan Al-Quran dan Sunnah

Al-Quran kita sepakati sebagai firman Allah SWT, satu-satunya Tuhan pencipta kita semua, tanpa materi yang dicari dan tanpa bahan yang diusahakan. Sang Pencipta Maha Mengetahui segala hal terkait proses ciptaan-Nya. Mulai dari bahan ciptaan, proses penciptaan, karakteristik, hingga segala yang dibutuhkan ciptaan-Nya.

Kita bisa bayangkan pembuat sesuatu dengan bahan saja sangat mengetahui kebutuhan yang dibuat. Bukankah pembuat pesawat sangat tahu kebutuhannya? Mulai dari persolan kokpit yang rumit hingga peran penting baling-baling? Bilapun pesawat membutuhkan sesuatu akan ditanyakan pada insinyur pembuatnya. Demikian hal-nya dengan manusia. Segala kebutuhannya hanya diketahui oleh Pencipta-Nya.

Maka jika kita hendak mengetahui segala hal terkait manusia maka bertanyalah pada Allah, Sang Maha Pencipta. Bahkan Allah telah menerangkanhal dimaksud sejak mulai manusia diciptakan, hingga menugaskan para rasul untuk menjabarkannya.

“Kami wahyukan kepadamu, Muhammad, seperti kami wahyukan kepada Nuh dan pada nabi setelahnya.” (QS An-Nisa: 163)

Semua keterangan yang disampaikan kepada rasul disebut wahyu. Setiap wahyu yang menjadi penanda risalah bernama ayat. Dan kumpulan ayat yang diwahyukan kepada rasul terakhir disebut al-Quran. Sedangkan isi al-Qran tidak sekedar menjadi ayat yang dibaca melainkan petunjuk kehidupan. Dalam bahasa arab, kumpulan petunjuk disebut hudan, jamak dari kata hidayah. Dmikian al-Qur’an diperkenalkan pada setiap insan:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS al-Baqarah: 185)

Nampak dalam ayat di atas bahwa fungsi utama al-Qur’an adalah hudan lin nas, petunjuk hidup manusia. Bagi kita yang ingin bahagia baik di rumah, kantir, kehidupan sosial atau segala hal, maka bacalah al-Qur’an. Bahagia itu sederhana, jadikanlah al-Quran sebagai pedoman.
Rasulullah SAW bahkan langsung mempraktikannya pedoman al-Qur’an di lingkungan masyarakat. Praktik Rasulullah SAW dalam mengamalkan al-Qur’an ini lah yang kemudian dinamakan Sunnah.

“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, serta banyak menyebut Allah."

Demikian peran al-Qur’an dan Sunnah, keduannya menjadi referensi abadi untuk meraih kebahagiaan di setiap zaman. Disini kita paham pentingnya bahagia di bawah naungan al-Qur’an dan Sunnah.

(Catatan buku bahagia dalam naungan al-Qur'an dan Sunnah karya Ust. Adi Hidayat)
1 Ramadhan 1440H/ 6 Mei 2019

No comments:

Post a Comment

Bagian #1: Bahagia dalam Naungan Al-Quran dan Sunnah

Tentang Makna Bahagia Bahagia memiliki tafsir dan makna yang beragam. Bergantung pada sosok, keadaan, serta referensi dalam memahaminy...