Tentang Makna Bahagia
Bahagia memiliki tafsir dan makna yang beragam. Bergantung pada
sosok, keadaan, serta referensi dalam memahaminya. Demikian di antara makna
bahagia nampak bahwa definisi bahagia bigitu beragam dan bergantung pada
situasi dalam memaknainya dan akan berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Rasa bahagia adalah hal yang begitu didamba oleh setiap
manusia. Demi kebahagiaan aneka upaya akan ditempuh. Dari yang paling sederhana
hingga teramat payah, bahkan dengan usaha yang kadang sulit dilukiskan. Namun kebahagiaan
yang dimaksud hanya berlaku umum, sifatnya tidak holistik dan jangkauannya
tidak komprehensif. Bahagia bagi seorang belum tentu berlaku bagi orang
lainnya.
Begitu pentingnya bahagia, ada pula yang berusaha membuat
undeks kebahagiaan hingga level kota untuk mengukur tingkat keberhasilan
pembangunan manusia. Hasilnya tidak ada stu pun yang meraih nilai sempurna. Kebahagiaan
si A belum tentu kebahagiaan untuk si B. Kebahagiaan si B belum tentu berlaku
bagi si C. Demikian seterusnya. Lantas bagaimana kebahagiaan yang hakiki dan
bisa diraih setiap orang?
Bahagia dalam Naungan Al-Quran dan Sunnah
Al-Quran kita sepakati sebagai firman Allah SWT, satu-satunya
Tuhan pencipta kita semua, tanpa materi yang dicari dan tanpa bahan yang
diusahakan. Sang Pencipta Maha Mengetahui segala hal terkait proses
ciptaan-Nya. Mulai dari bahan ciptaan, proses penciptaan, karakteristik, hingga
segala yang dibutuhkan ciptaan-Nya.
Kita bisa bayangkan pembuat sesuatu dengan bahan saja sangat
mengetahui kebutuhan yang dibuat. Bukankah pembuat pesawat sangat tahu
kebutuhannya? Mulai dari persolan kokpit yang rumit hingga peran penting
baling-baling? Bilapun pesawat membutuhkan sesuatu akan ditanyakan pada
insinyur pembuatnya. Demikian hal-nya dengan manusia. Segala kebutuhannya hanya
diketahui oleh Pencipta-Nya.
Maka jika kita hendak mengetahui segala hal terkait manusia
maka bertanyalah pada Allah, Sang Maha Pencipta. Bahkan Allah telah
menerangkanhal dimaksud sejak mulai manusia diciptakan, hingga menugaskan para
rasul untuk menjabarkannya.
“Kami wahyukan kepadamu, Muhammad, seperti kami wahyukan
kepada Nuh dan pada nabi setelahnya.” (QS An-Nisa: 163)
Semua keterangan yang disampaikan kepada rasul disebut
wahyu. Setiap wahyu yang menjadi penanda risalah bernama ayat. Dan kumpulan
ayat yang diwahyukan kepada rasul terakhir disebut al-Quran. Sedangkan isi
al-Qran tidak sekedar menjadi ayat yang dibaca melainkan petunjuk kehidupan. Dalam
bahasa arab, kumpulan petunjuk disebut hudan, jamak dari kata hidayah. Dmikian al-Qur’an
diperkenalkan pada setiap insan:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan
al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS al-Baqarah: 185)
Nampak dalam ayat di atas bahwa fungsi utama al-Qur’an
adalah hudan lin nas, petunjuk hidup manusia. Bagi kita yang ingin bahagia baik
di rumah, kantir, kehidupan sosial atau segala hal, maka bacalah al-Qur’an. Bahagia
itu sederhana, jadikanlah al-Quran sebagai pedoman.
Rasulullah SAW bahkan langsung mempraktikannya pedoman
al-Qur’an di lingkungan masyarakat. Praktik Rasulullah SAW dalam mengamalkan
al-Qur’an ini lah yang kemudian dinamakan Sunnah.
“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang
baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari
kiamat, serta banyak menyebut Allah."
Demikian peran al-Qur’an dan Sunnah, keduannya menjadi
referensi abadi untuk meraih kebahagiaan di setiap zaman. Disini kita paham
pentingnya bahagia di bawah naungan al-Qur’an dan Sunnah.
(Catatan buku bahagia dalam naungan al-Qur'an dan Sunnah karya Ust. Adi Hidayat)
1 Ramadhan 1440H/ 6 Mei 2019
1 Ramadhan 1440H/ 6 Mei 2019
No comments:
Post a Comment